Rabu, 27 November 2019

Ulasan cerita

Nama : Khairus Sya’bani
Kelas: 1D
Nim: 11901102


BUAYA KUNING CERITA RAKYAT KABUPATEN MEMPAWAH


        Pada zaman dahulu kala. Di sebuah kerajaan Bangkule Rajakng, negeri Mempawah Tua, bertahtalah seorang raja yang bernama Patih Nyabakng yang diberi gelar oleh rakyatnya sebagai Raja Kudong. Raja Kudong ini memiliki cacat fisik yaitu jari tangan yang tidak sempurna bentuknya. Oleh sebab itu pulalah, dia digelari sebagai Raja Kudong. Namun dia juga memiliki kesaktian mandraguna.

Meskipun cacat, Raja Kudong sangat terampil menebar jala di air, guna menangkap ikan dan udang yang merupakan kegemarannya sehari-hari. Sebagai raja yang berkuasa di negerinya, dia pun telah berusaha sekuat tenaga untuk mengobati cacat fisiknya itu. Tetapi hingga kini belum juga bisa disembuhkan. Pada suatu ketika, dalam suasana hati yang diliputi kekesalan dan hampir berputus asa, dia pun bersumpah pada dirinya sendiri dan juga kepada seluruh rakyatnya.
Pada suatu hari, dengan diiringi beberapa pengawalnya, Raja Kudong pun pergi ke sungai Mempawah untuk menjala ikan dan udang. Tetapi tidak seperti biasanya, sudah menjelang siang tak seekor ikan dan udang pun yang didapatnya. Hingga dia dan rombongan berjalan jauh dan tiba di Lubuk Sauh.

Setiba Raja Kudong disana, dia pun segera menebarkan jalanya seperti biasa. Namun, ketika hendak menarik jala yang sudah ditebar tersebut, jala itu terasa berat. Terbit rasa penasaran di hati Baginda.

Singkat cerita, dengan kesaktian yang dimilikinya, sampailah Raja Kudong ke negerinya yang disambut oleh seluruh warga istana dan rakyatnya dengan penuh suka cita. Selain itu, terbesit rasa heran di hati mereka, atas kembalinya Raja Kudong di alam nyata setelah sekian lama menghilang. Dan mulai saat itu Raja Kudong kembali memimpin kerajaannya.

Setelah beberapa bulan kembali kedaratan, maka timbullah rasa rindu Raja Kudong kepada istri dan anak-anaknya di kerajaan dasar sungai. Kemudian Raja Kudong memerintahkan kepada para pelayan istana untuk segera menyiapkan alat-alat yang telah dipesankan oleh isterinya. Putri Banyu Mustari, sebagai media ritual yang akan mempertemukan mereka nantinya di sungai. Sebutir telur ayam kampung yang masih mentah, sebatang paku, sebutir buah keminting atau kemiri, seulas sirih seleke, sejemput berteh padi dan juga beras kuning yang sudah dilumuri minyak bauh. Setelah semuanya siap, maka dibawalah alat-alat itu kesungai Mempawah untuk dibuang seluruhnya disana.
Sumber:
Rap, Lonyenk. (Ed.). 2013. Buaya Kuning. Jakarta Timur: Prameswari.


Setelah semua persyaratannya dibuang dengan cara perlahan dan penuh kesopanan oleh Raja Kudong ke air Sungai Mempawah, tak lama kemudian muncullah kepermukaan sungai beberapa ekor buaya yang berwarna kuning. Buaya-buaya itu mendekati Raja, seolah menaruh rasa rindu yang sama pada paduka. Maka untuk beberapa waktu, terobatilah perasaan rindu Sang Raja kepada isteri dan anak-anaknya.

Dan mulai saat itu, Raja Kodung lantas mengeluarkan sebuah titah, agar seluruh keturunannya tidak mengganggu semua buaya kuning yang terdapat atau muncul dipermukaan sungai Mempawah. Acara pemanggilan itu sendiri kemudian dikenal dengan acara adat buang-buang yang sampai sekarang masih dilestarikan dan terus dilaksanakan oleh sebagian rakyat Mempawah.

Dalam cerita Raja Kudong ini ada beberapa pesan moral yang bisa kita petik. Cerita ini mengajarkan pada kita untuk senantiasa menghargai keputusan orang lain dan juga menepati janji yang telah terucap. Selain itu, percaya atau tidak, cerita ini merupakan sebuah kenyataan, bahwa Raja Kudong memang sempat hidup dalam dua alam. Yaitu alam nyata di bumi di kerajaan Bangkule Rajakng dan hidup pula di alam gaib, di kerajaan Putri Banyu Mustari di dasar Lubuk Sauh sungai Mempawah.

Cerita rakyat buaya kuning ini, bagi sebagian rakyat Mempawah adalah cerita rakyat yang benar-benar ada dan memang pernah terjadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar