Minggu, 25 April 2021

MAGANG 1, LAPORAN BACAAN KE-3

 

LAPORAN BACAAN

OLEH KHAIRUS SYA’BANI

11901102

PAI 4D

 

 

Identitas Buku/ jurnal

 

Judul: MANAJEMEN KELAS YANG EFEKTIF

Penulis: Astuti

Penerbit:  Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone.

Volume: Volume. 9, No. 2 Agustus 2019

e-ISSN: : 2685-4538

P-ISSN: : 2407-8107

 

 

Dari jurnal yang saya baca, Manajemen kelas berasal dari dua kata, yakni yang pertama Manajemen dan kelas. Manajemen yang berarti berarsal dari kata Bahasa Inggris Management yang di terjemahkan pula menjadi pengolahan, yang bisa di artikan bahwa proses Sumber daya yang efektif agar mencapai sasaran, dan juga dari yang saya baca bahwa  yang dimaksud kelas secara umum dapat diartikan sebagai sekelompok siswa atau peserta didik yang bisa di bilang  ada pada waktu yang sama menerima pembelajaran yang sama dari pendidik yang sama. Dan dari sudut pandang yang lain mengartikan bahwa kelas menjadi dua arti , yaitu:

 Pertama, kelas dalam arti sempit,  yakni berupa ruangan khusus, tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses belajar mengajar.jadi arti Kelas dalam hal ini sangat mengandung sifat-sifat statis, mengapa demikian? Alasannya adalah karena sekedar menunjuk pada adanya pengelompokan siswa berdasarkan batas umur kronologis masing-masing.

 Kedua, kelas dalam arti luas, yakni suatu masyarakat kecil yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar secara kreatif untuk mencapai tujuan.  

Pada umumnya manajemen kelas memiliki tujuan, salah satu tujuannya yang paling umum ialah untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam pencapaian tujuan pembelajaran.  Dan dari jurnal yang say abaca bahwa kegiatan pengelolaan fisik dan pengelolaan sosio-emosional merupakan bagian dalam pencapaian tujuan pembelajaran dan belajar siswa. dan  Ketercapaian tujuan pengelolaan kelas seperti dikemukakan oleh A. C. Wraag telah dapat dideteksi atau bisa dilihat dari: “Anak-anak memberikan respon yang setimpal terhadap perlakuan yang sopan dan penuh perhatian dari orang dewasa atau guru. Mereka akan bekerja dengan rajin dan penuh konsentrasi dalam melakukan tugas-tugasnya yang sesuai dengan kemampuannya.”

Dan menurut Dirjen PUOD dan Dirjen Dikdasmen tujuan dari manajemen kelas ada 3 ialah sebagai berikut:

1. Mewujudkan situasi dan kondisi kelas yang baik, maksudnya sebagai kelompok belajar maupun lingkungan belajar, memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin.

2) Menghilangkan berbagai hambatan yang menyebabkan menghalangi terjadinya interaksi pembelajaran. Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional, dan intelektual siswa dalam kelas.

3) Membina dan membimbing siswa sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi,

budaya serta sifat-sifat individualnya.

di Dalam suatu sekolah, tentunya kita perlu sadari bahwa dilihat dari jumlah siswa yang berada di dalam kelas tentunya  akan turut mewarnai dinamika di  kelas itu sendiri. karena Semakin banyak jumlah siswa yang berada di dalam suatu kelas, bisa di bilang maka kemungkinan besar juga akan semakin sering terjadinya  konflik antar siswa. dan Sebaliknya semakin sedikit jumlah siswa dalam suatu kelas, maka kecenderungan terjadi konflik juga akan semakin kecil. dan Oleh karena itu, agar manajemen kelas ini semua dapat diterapkan dengan baik, penting bagi para guru untuk dapat memahami beberapa prinsip dasar tentang manajemen kelas.

Ini dia Beberapa prinsip manajemen

kelas , sebagai berikut:

- Guru Harus bersifat Hangat dan guru juga harus  Antusias

 Dari yang saya baca Agar kelas kita  dapat dikelola dengan baik, tentunya kita sebagai  seorang guru harus bersikap hangat dan tentunya kita sebagai seorang guru tentunya juga harus antusias kepada siswa-siswanya.  Tentunya Untuk dapat memiliki sikap yang hangat kepada siswa guru dapat melakukan hal-hal sebagai berikut:

1.sebagai guru, Bertanyalah tentang kabar siswa-siswi sebelum mulainya  pelajaran. Karena  Cara ini bisa di bilang dapat membangun kesan mendalam atau berarti pada diri siswa dan dapat membuat mereka merasa  benar-benar merasa diperhatikan oleh kita sebagai guru.

2. kita sebagai guru setidaknya Sediakan waktu dan sedikan juga kesempatan pada siswa/siswi untuk mengemukakan  persoalan-persoalan yang akan  mereka hadapi, baik mengenai persoalan pelajaran atau persoalan lain.

3. kita sebagai guru Berdoalah untuk mereka.saat guru secara khusyuk berdoa untuk siswa

dan siswa mengamininya, maka pada saat itu terjalin hubungan emosional yang kuat antara guru dengan siswa.

-Guru Harus Mampu Memberikan Tantangan

Dari yang saya lihat, biasanya  setiap siswa itu sangat menyukai beberapa tantangan yang mengusik rasa ingin tahu mereka ataun bisa di bilang siswa tersebut kepo. Karena itu, guru harus mampu memberikan tantangan yang dapat memancing antusiasme siswa dalam mengikuti mata pelajarannya. Beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh guru dalam memberikan tantangan, yaitu:

1. kita senbagai guru Lakukanlah setidaknya evaluasi sederhana secara berkala setiap minggu.dan  Apabila hari ini guru menyampaikan materi suatu pelajaran, maka evaluasi dapat dilakukan pada minggu yang akan datang.

2. kita sebagai guru tentunya harus  Selingi  pelajaran dengan kuis, misalnya guru membuat teka-teki yang bahan bahannya yang diambil dari materi pada saat  pelajaran itu. Atau ajaklah siswa untuk belajar di luar kelas sebagai sarana untuk refreshing.

-Guru Harus Mampu bersikap Luwes

Dari jurnal yang saya baca, intinya Setiap guru itu harus mampu bersikap luwes kepada para  siswanya. Yang  Artinya, didalam kelas seorang guru tidak harus memosisikan diri sebagai orang yang serba tahu. Kita tentunya bisa Sesekali dalam waktu tertentu, guru tentunya juga harus mampu dan bisa  menempatkan dirinya sebagai orang “saudara”, “orang tua”, maupun “sahabat’ bagi siswa-siswinya, hal ini agar siswa siswi nya dapat enjoy padat saat pelajaran berlangsung , tentunya hal ini para siswa dapat menjadi saat dan merasa ia tidak tertekan dikarenakan gurunya sendiri sangat paham terhadap kondidinya yang masih kecil itu. Pergaulan yang luwes antara seorang guru dengan siswa dapat menumbuhkan rasa saling menghormati dan menghargai. Untuk mewujudkan hal tersebut, dan ada beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh seorang guru, yaitu:

a) kita sebagai guru , agar kita ingin lebih dekat dengan siswa, setidak nya kita Memperlakukan siswa layaknya saudara/anak sendiri. Sebagai seorang saudara, tentu kita tidak canggung apabila henda meminta bantuan atau diminta bantuan oleh mereka.

b) dan kita sebagai seorang guru, Sesekali panggillah siswa dengan panggilan “nak”. Karena Panggilan akrab semacam ini dapat menimbulkan kesan mendalam dalam diri siswa, semacam perasaan kalau siswa adalah anak-anaknya sendiri.

Dan dari jurnal ini, saya membaca ada beberapa pendekatan dala manajemen kelas, yakni:

1. pendekatan kekuasaan, disini pendekatan kekuasaan memiliki pengertian sebagai sikap konsistensi dari seorang guru untuk menjadikan norma atau aturan-aturan dalam kelas sebagai acuan untuk menegakkan kedisiplinan. Ketentuan tersebut didasarkan pada salah satu konsep dasar manajemen kelas yang tidak lain adalah proses untuk mengontrol serta membimbing para siswa agar mereka memiliki sikap disiplin dalam belajar.dan  Dalam proses itu, salah satu peranan guru adalah menciptakan dan mempertahankan situasi disiplin dalam kelas, hal itu tentunya dilakukan  sehingga suasana belajar mengajar dapat berlangsung dengan efektif.

2. pendekatan ancaman, yang di baca Ancaman juga dapat dijadikan pendekatan yang tentunya  perlu dilakukan guru/ pengajar untuk memanage kelas yang baik. Tapi ancaman disini seharusnya tidak dilakukan dalam waktu  sesering mungkin dan ebenarnya hanya perlu diterapkan manakala kondisi sudah benar-benar tidak dapat dikendalikan. Selama guru masih mampu melakukan pendekatan lain di luar ancaman, maka akan lebih baik jika pendekatan dengan ancaman ini ditangguhkan.

3. pendekatan resep, jurnal yang sayaa baca  Pendekatan resep tentunya sangat cocok dilakukan oleh guru sendiri. Dalam hal ini, kita perlu mencatat beberapa hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama mengajar di kelas.disini tentunya  Ketentuan itu dibuat tidak semata-mata untuk kepentingan guru itu sendiri, melainkan hal itu juga untuk kepentingan pengaturan kelas. Oleh sebab itu, cobalah kita ingat kembali apa yang tidak disukai siswa-siswi pada saat kita mengajar itu , sehingga ketidaksukaan itu dapat menyebabkan situasi kelas menjadi tidak efektif. Tidak ada salahnya jika kita sebagai  guru juga meminta para siswa untuk mengemukakan hal-hal yang kurang mereka sukai dari cara kita mengajar serta apa yang mereka inginkan. Di samping itu, akan sangat baik jika guru meminta siswa untuk mengemukakan hal-hal yang mereka sukai dari kita. Semua komentar siswa hendaknya kita perhatikan baik-baik, untuk kemudian diaplikasikan dalam tindakan nyata, karena tidak ada salahnya kita mendengarkan apa kata siswa, karena hal itu di lakukan demi kenyamanan proses belajar mengajar di dalam kelas, tentunya jika posisi ini dapat terwujudkan maka kita sebagai guru juga lebih nyaman , dan mereka sebagai murid tentunya juga akan senang karena apa yang di kemukakan nya dapat di rasakannta atau di wujudkan oleh guru nya sendiri.

Dan dari jurnal yang di baca, bahwa Manajemen kelas di dalam konsep modern dipandang sebagai proses mengorganisasikan dari segala sumber daya kelas bagi terciptanya proses pembelajaran yangefektif dan efisien. Sumber daya itu diorganisasikan untuk memecahkan beragam masalah yang menjadi kendala dalam proses pembelajaran sekaligus membangun situasi kelas yang kondusif secara berkesinambungan.karena kita tentunya sebagai Pendidik harus bertugas untuk menciptakan, memperbaiki, dan memilhara situasi kelas yang cerdas. Situasi kelas yang cerdas itulah yang mendukung pendidik untuk mengukur, mengembangkan, dan memelihara stabilitas kemampuan, bakat, minat dan energi yang dimilikinya dalam rangka menjalankan tugas-tugas pendidikan dan pembelajaran. Oleh karena itu, dalam mewujudkan manajemn kelas yang efektif maka perlu melakukan perencanaan yang matang mengenai strategi pembelajaran, fasilitas yang diperlukan serta sistem pengaturannya, budaya kelas, dan sistem evaluasi untuk mengukur keberhasilan manajemen kelas. Terkait dengan pendidik dalam hubungannya dengan pelaksanaan manajemen kelas, maka pendidik harus menciptakan suasana kelas yang kondusif, menjadi manajer kelas yang efektif, menjadi leader kelas, menjadi pembimbing peserta didik, mengendalikan disiplin kelas, menata lingkungan fisik kelas. Untuk mengukur efektivitas pelaksanaan Pelaksanaan manajemen kelas maka perlu dilakukan evaluasi secara berkelanjutan dengan melibatkan berbagai pihak yang terkait. Sebagaimana prinsipnya, pengelolaan kelas dilakukan sebagai upaya untuk mengubah tingkah laku siswa di dalam kelas dari kurang baik menjadi baik. Sumber daya itu diorganisasikan untuk memecahkan beragam masalah yang menjadi kendala dalam proses pembelajaran sekaligus membangun situasi kelas yang kondusif secara berkesinambungan. Guru sebagai pemimpin kelas diharapkan mampu menerapkan pendekatan manajemen kelas berdasarkan situasi dan kondisi yang berlangsung. Sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Sumber daya itu diorganisasikan untuk memecahkan beragam masalah yang menjadi kendala dalam proses pembelajaran sekaligus membangun situasi kelas yang kondusif secara berkesinambungan.

Sabtu, 17 April 2021

MAGANG 1, LAPORAN BACAAN PERTAMUAN 2

 

LAPORAN BACAAN

OLEH KHAIRUS SYA’BANI

11901102

PAI 4D

 

 

Identitas Buku

 

Judul: Kultur Sekolah

Penulis: Ariefa Efianingrum

Penerbit:  Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta

Cetakan: Pertama, Mei 2013

Tebal: 30 halaman

 

 

 

 

 

 

Menurut Ki Hajar Dewantara, bahwa pendidikan merupakan sarana perjuangan kebudayaan dan pembangunan masyarakat. Pendidikan yang tidak disadari oleh kebudayaan akan menghasilkan generasi yang tercerabut dari kehidupan masyarakatnya. Dari yang saya baca dalam menbangun pendidikan di sekolah terdapat dua wacana yang cukup besar, yaitu:

           Wacana pertama adalah academic (wacana pengembangan prestasi akademik), sebagai wacana dominan yang lebih menekankan achievement discourses pada proses restrukturisasi deregulasi, desentralisasi, kurikulum, dan pelatihan).

           wacana yang kedua adalah wacana kultural yang lebih menekankan pada aspek rekonstruksi (terkait dengan redefinisi, rekulturasi, dan pergeseran mind-sets)” (Suyata, 2000).

 

Pernyataan dari dua wacana di atas bermakna bahwahak tersebut lebih  menekankan perbaikan pendidikan hanya pada proses restrukturisasi, tidak lagi memadai, mengingat adanya keyakinan bahwa sistem sosial dan sistem budaya menjadi medan dan kunci keberhasilan pendidikan. 

Berkaitan dengan pendepat tersebut, yang lain ada mengemukakan bahwa adanya dua pendekatan perubahan pendidikan yang berada di sekolah, yakni:

1.         Pendekatan struktural

Dimana pendekatan ini memusatkan perhatian lebih kepada pengubahan aspek-aspek struktural- birokratik, seperti job descriptions, dimana Job description atau uraian jabatan atau gambaran tugas adalah suatu pernyataan tertulis yang berisi tujuan dari dibentuknya suatu jabatan/tugas. Uraian ini berisi gambaran tentang apa yang harus dilakukan oleh pemegang jabatan, bagaimana suatu pekerjaan dilakukan, alasan-alasan mengapa pekerjaan tersebut dilakukan, hubungan antara suatu posisi tertentu dan posisi lainnya di luar lingkup pekerjaannya dan di luar organisasi (eksternal) untuk mencapai tujuan unit kerja dan perusahaan secara luas. Apabila job description telah tersusun dengan baik, maka job spesification atau spesifikasi jabatan akan mulai dikembangkan. Selanjutnya tatanan birokrasi, dimana Birokrasi merupakan struktur tatanan organisasi, bagan, pembagian kerja dan hierarki yang terdapat pada sebuah lembaga yang penting untuk menjalankan tugas-tugas agar lebih teratur, seperti contohnya pada pemerintahan, rumah sakit, sekolah, militer dll.  dan selanjutnya pengaturan hubungan antar unit organisasi, gaya kepemimpinan , dimana Gaya kepemimpinan mengacu pada perilaku karakteristik pemimpin saat mengarahkan, memotivasi, membimbing, dan mengelola sekelompok orang. Pemimpin hebat bisa menginspirasi gerakan politik dan perubahan sosial. Mereka juga dapat memotivasi orang lain untuk tampil, berkreasi, dan berinovasi, dan aspek struktur sekolah lainnya.

 

2.         Pendekatan budaya

Dimana pendekatan ini memusatkan perahtian lebih kepada budaya keunggulan atau yang hiasa disebut dengan ( culture of excellence), yang tentunya lebih menekankan pengubahan pada pikiran, pada kata-kata, pada sikap, pada perbuatan dan pada hati setiap warga sekolah. Dan disini pendekatan budaya untuk mengembangkan atau meningkatkan kinerja sekolah tentunya semua itu akan lebih efektif dibandingkan dengan pendekatan sebelumnya yakni pendekatan struktural.

 

Dari Kedua pendapat di atas, telah mengingatkan pada sejumlah konsep-konsep  pokok dalam literatur berjudul “Culture Matters: How Values Shape Human Progress” (Harrison & Huntington, 2000) yang dimana dalam perkembangannya para ahli ilmu sosial mulai memberikan perhatian pada faktor kultural dalam menjelaskan berbagai realitas di masyarakat yang terkait dengan isu pembangunan, isu modernisasi,isu demokratisasi, dan isu lain-lain. Dan yang saya baca dapat saya simpulkan bahwa kemajuan ataupun ketertinggalan tidak lah di sebabkan oleh faktor dari luar masyarakat, tapi melainkan oleh karena faktor internal yang berasal  dari dalam masyarakat itu sendiri. Dan Masyarakat sendirilah yang memilih untuk maju atau tertinggal. Oleh karena itu di dalam hal ini tentunya bukan hanya faktor dari luar yang mempengaruhi, tetapi faktor dari dalam itulah yang mempengaruhi mau seperti apa kita, mau maju atau tertinggal. Faktor internal tersebut tidak lain adalah budaya. Budaya inilah faktor utama nya dalam hal ini. Tidak ada definisi tunggal mengenai kebudayaan.

thick description) dalam menjelaskan jalan hidup masyarakat (the way of life of a society) yang meliputi:

1.         Nilai, adalah alat yang menunjukkan alasan dasar bahwa "cara pelaksanaan atau keadaan akhir tertentu lebih disukai secara sosialdibandingkan cara pelaksanaan atau keadaan akhir yang berlawanan Nilai memuat elemen pertimbangan yang membawa ide-ide seorang individu mengenai hal-hal yang benar, baik, atau diinginkan.

2.         Praktik, merupakan suatu tindakan yang domain utamanya adalah sikap, namun sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (behavior). Suatu sikap dapat terwujud menjadi suatu tindakan nyata maka diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan terjadinya suatu tindakan tersebut. Faktor pendukung tersebut meliputi faktor fasilitas dan faktor dukungan.

3.         Simbol,  adalah lambang yang mengandung makna atau arti. Kata simbol dalam bahasa Inggris: symbol; Latin symbolium, berasal dari bahasa Yunani symbolon (symballo) yang berarti menarik kesimpulan, berarti atau memberi kesan.

4.         Institusi,  merupakan suatu organisasi yang ada dan pendiriannya atas dasar tujuan yang nantinya akan langsung berhubungan dengan masyarakat. Kebanyakan institusi yang berdisi dengan tujuan untuk memberikan pendidikan pada kalangan umum. Institusi merupakan segala daya tahap struktur yang mekanismenya berdasarkan tatanan sosial serta kerjasama dalam pembentukkan perilaku setiap individu yang terlibat dalam suatu institusi tertentu. Dalam pembentukan perilaku yang berperan aktif bukan hanya pihak institusi saja akan tetapi segala

5.         Relasi sosial, merupakan hubungan timbal balik antar individu yang satu dengan individu yang lain dan saling mempengaruhi.15 Mei 2019

 

Dari yang saya baca Budaya sekolah merupakan himpunan norma- norma, nilai-nilai dan keyakinan, ritual dan upacara, simbol dan cerita yang membentuk persona sekolah. Disini tertulis harapan untuk membangun dari waktu ke waktu sebagai guru, administrator, orang tua, dan siswa bekerja sama, memecahkan masalah, menghadapi tantangan dan mengatasi kegagalan. Dan Setiap sekolah memiliki seperangkat harapan tentang apa yang dapat dibahas pada rapat staf, bagaimana teknik mengajar yang baik, dan pentingnya pengembangan staf. Budaya sekolah juga merupakan cara berpikir tentang sekolah dan berurusan dengan budaya dimana mereka bekerja. Dan Budaya sekolah juga merupakan jaringan tradisi dan ritual yang kompleks, yang telah dibangun dari waktu ke waktu oleh guru, siswa, orangtua, dan administrator yang bekerja sama dalam menangani krisis dan prestasi. Pola budaya sangat abadi, memiliki dampak yang kuat pada kinerja, dan membentuk bagaimana orang berpikir, bertindak, dan merasa. Dan Dalam perjalanannya, sekolah juga memiliki kebiasaan dan upacara-komunal untuk merayakan keberhasilan, untuk memberikan kesempatan selama transisi kolektif, dan untuk mengakui kontribusi masyarakat terhadap sekolah. Dan dari yang saya baca bahwa Budaya sekolah juga meliputi simbol dan cerita yang mengkomunikasikan nilai-nilai inti, memperkuat misi, membangun komitmen, dan rasa kebersamaan. Simbol adalah tanda lahiriyah nilai. Cerita merupakan representasi sejarah dan makna kelompok. Dalam budaya positif, fitur tersebut memperkuat proses pembelajaran, komitmen, dan motivasi, karena menjamin para anggota konsisten dengan visi sekolah. Di sekolah, ada ritual yang kompleks dalam hubungan interpersonal, satu set kebiasaan, adat istiadat, dan sanksi irasional, kode moral yang berlaku di antara mereka. Orangtua, guru, kepala sekolah, dan siswa selalu merasakan sesuatu yang istimewa, namun seringkali tak terdefinisikan, tentang sekolah mereka, tentang sesuatu yang sangat kuat namun sulit untuk dijelaskan. Kenyataan ini, merupakan aspek sekolah yang sering diabaikan dan akibatnya seringkali tidak hadir dalam diskusi- diskusi tentang upaya perbaikan sekolah. Sekolah berperan dalam menyampaikan kebudayaan dari generasi ke generasi dan oleh karena itu harus selalu memperhatikan kondisi masyarakat dan kebudayaan umum. Namun demikian, di sekolah itu sendiri timbul pola kelakuan tertentu. Kebudayaan sekolah merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat luas, namun mempunyai ciri-ciri yang khas/unik sebagai suatu sub-kebudayaan/sub-culture (Nasution, 1999). Timbulnya sub-kebudayaan sekolah juga terjadi karena sebagian besar dari waktu siswa terpisah dari kehidupan orang dewasa. Dalam kondisi demikian, dapat berkembang pola perilaku yang khas bagi siswa yang tampak dari pakaian, bahasa, kebiasaan, kegiatan-kegiatan, serta upacara- upacara. Sebab lain timbulnya kebudayaan sekolah adalah tugas sekolah yang khas yakni mendidik anak melalui penyampaian sejumlah pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), ketrampilan (psikomotorik) yang sesuai dengan kurikulum dengan metode dan teknik kontrol tertentu yang berlaku di sekolah itu. Sebagai sub-kultur, kultur sekolah hadir dalam berbagai variasi dalam praktiknya.  menurut Harrison & Huntington (2000), terdapat dua kategori nilai, yaitu nilai intrinsik dan nilai instrumental. Nilai intrinsik merupakan nilai yang ditegakkan tanpa memperhatikan untung/rugi, misalnya: nilai patriotisme. Sedangkan nilai instrumental merupakan nilai yang didukung karena menguntungkan, misalnya produktivitas. Visi misi tujuan dan nilai-nilai dalam budaya merupakan unsur yang penting. Pentingnya tujuan bermakna norma-norma yang positif, dan nilai-nilai yang dipegang teguh untuk menambahkan semangat dan vitalitas untuk perbaikan sekolah. Guru dapat berhasil dalam memfokuskan budaya pada produktivitas, kinerja, dan upaya perbaikan. Budaya membantu para guru dalam mengatasi ketidakpastian pekerjaan mereka dengan memberikan fokus pada kolegialitas. Hal ini penting untuk memberikan motivasi sosial dalam suatu pekerjaan yang menuntut mereka siap mengajar tigapuluh anak di ruang kelas. Budaya mendorong, memberi sanksi, dan memberi penghargaan pada tugas profesional untuk meningkatkan ketrampilan mereka.

 

dalam praktiknya seringkali justru terlewatkan perbaikan sekolah antara lain:

1.         Culture fosters school effectiveness and productivity (Budaya mendorong terwujudnya efektivitas dan produktivitas sekolah).

2.         Culture improves collegial and collaborative activities that fosters better communication and problem solving practices (Budaya meningkatkan kegiatan kolegial dan kolaboratif yang mendorong perbaikan komunikasi dan praktik pemecahan masalah).

3.         Culture fosters successful change and improvement efforts (Budaya mendorong upaya keberhasilan perubahan dan perbaikan).

4.         Culture builds commitment and identification of staffs, students, and administrators (Budaya membangun komitmen dan identifikasi dari para staf, siswa dan tenaga administrasi).

5.         Culture amplifies the energy, motivation, and vitality of a school staff, students, and community (Budaya menguatkan energi, motivasi, dan vitalitas dari staf sekolah, siswa, dan komunitas/masyarakat).

6.         Culture increases the focus of daily behavior and attention on what is important and valued (Budaya meningkatkan fokus pada perilaku keseharian dan perhatian pada apa yang penting dan bernilai/berharga).

 

Yang saya baca dari jurnal ada beberapa kultur sekolah yang dapat dikembangkan antara lain yang kondusif bagi pengembangan:

1.         Prestasi Akademik

2.         Non-Akademik

3.         Karakter

4.         Kelestarian Lingkungan Hidup

 

Diatas tadi merupakan sejumlah contoh kultur sekolah yang dapat dikembangkan oleh tiap-tiap sekolah. Masih terbuka bagi sejumlah alternatif lain sesuai karakteristik dan kreativitas masing-masing sekolah. Program sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan dan mengembangkan kultur sekolah dapat bervariasi karena tidakada model tunggal.

Jumat, 09 April 2021

MAGANG 1, TUGAS 1

 

LAPORAN BACAAN JURNAL

OLEH KHAIRUS SYA’BANI (11901102)

PAI 4D

 

Identitas Jurnal :

Judul: Pengembangan Kurikulum dalam Pembelajaran Abad XXI

Penulis: Purwadhi

Penerbit: MIMBAR PENDIDIKAN: Jurnal Indonesia untuk Kajian Pendidikan

Volume:  Volume 4(2), September 2019

 

 

Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang Pendidikan. Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut serta kebutuhan lapangan kerja. Lama waktu dalam satu kurikulum biasanya disesuaikan dengan maksud dan tujuan dari sistem pendidikan yang dilaksanakan. Kurikulum ini dimaksudkan untuk dapat mengarahkan pendidikan menuju arah dan tujuan yang dimaksudkan dalam kegiatan pembelajaran secara menyeluruh.. darin yang saya baca dari jurnal ini, di kurikulum 2013 di bandingkan dengan kurikulum sebelumnya, kurikulum 2013 di Indonesia juga di kembangkan berdasarkan 5 landasan yakni: Landasan Filosofis,  landasan sosiologis, Lanndasan Psiko- Pedagogik, Landasan teoritis, dan yang terakhir landasan yuridis.

Dan didalam penyusunan kurikulum 2013 ini dalam pengembangannya telah pula ditetapkan peraturan sebagai landasan operasional pada masing-masing satuan Pendidikan.

Menurut Abidin, 2014; Latief, 2014; dan Suarga, 2017 Abad XXI adalah abad yang bisa dibilang penuh harapan dan juga ancaman. Penuh pengharapan, karena perkembnagan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat dibandingkan dengan empat abad sebelumnya, sehingga manusia dapat memperoleh kemudahan dalam memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya.   Pemenuhan kebutuhan tidak sekedar fungsinya, tetapi sudah dikemas dalam bentuk pelayanan yang lebih baik, diwarnai dengan sentuhan seni, memilki rasa peradaban super modern, dan keunikan. Dari hal di atas kemudahan tersebut terdapat satu ancaman. Satu di antaranya adalah ancaman kerusakan lingkungan yang semakin parah, sumber daya alam semakin menipis, konflik sosial semakin meluas, serta ancaman kepunahan sumber daya hayati dari tumbuhan dan hewani. Pengembangan kurikulum, selain mempertimbangan landasan filosofis, sosiologis, psiko-pedagogis, teoritis, dan landasan yuridis (Djuandi, 2013),  mengacu pada pertimbangan yang bertalian dengan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum, yang digunakan sebagai kaidah yang harus ditempuh dan menjiwai suatu kurikulum yang akan disusun atau dikembangkan. Prinsipprinsip pengembangan kurikulum dapat dikembangkan sendiri, atau menggunakan prinsip yang telah ada, serta berkembang dalam kehidupan sehari-hari