LAPORAN BACAAN
OLEH KHAIRUS
SYA’BANI
11901102
PAI 4D
Identitas Buku
Judul: Kultur Sekolah
Penulis: Ariefa Efianingrum
Penerbit: Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri
Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Mei 2013
Tebal: 30 halaman
Menurut Ki Hajar Dewantara, bahwa
pendidikan merupakan sarana perjuangan kebudayaan dan pembangunan masyarakat.
Pendidikan yang tidak disadari oleh kebudayaan akan menghasilkan generasi yang
tercerabut dari kehidupan masyarakatnya. Dari yang saya baca dalam menbangun
pendidikan di sekolah terdapat dua wacana yang cukup besar, yaitu:
• Wacana
pertama adalah academic (wacana pengembangan prestasi akademik), sebagai wacana
dominan yang lebih menekankan achievement discourses pada proses
restrukturisasi deregulasi, desentralisasi, kurikulum, dan pelatihan).
•
wacana yang kedua adalah wacana kultural yang lebih menekankan pada aspek
rekonstruksi (terkait dengan redefinisi, rekulturasi, dan pergeseran
mind-sets)” (Suyata, 2000).
Pernyataan dari dua wacana di atas
bermakna bahwahak tersebut lebih
menekankan perbaikan pendidikan hanya pada proses restrukturisasi, tidak
lagi memadai, mengingat adanya keyakinan bahwa sistem sosial dan sistem budaya
menjadi medan dan kunci keberhasilan pendidikan.
Berkaitan dengan pendepat tersebut,
yang lain ada mengemukakan bahwa adanya dua pendekatan perubahan pendidikan
yang berada di sekolah, yakni:
1. Pendekatan
struktural
Dimana pendekatan ini memusatkan
perhatian lebih kepada pengubahan aspek-aspek struktural- birokratik, seperti
job descriptions, dimana Job description atau uraian jabatan atau gambaran
tugas adalah suatu pernyataan tertulis yang berisi tujuan dari dibentuknya
suatu jabatan/tugas. Uraian ini berisi gambaran tentang apa yang harus
dilakukan oleh pemegang jabatan, bagaimana suatu pekerjaan dilakukan,
alasan-alasan mengapa pekerjaan tersebut dilakukan, hubungan antara suatu
posisi tertentu dan posisi lainnya di luar lingkup pekerjaannya dan di luar
organisasi (eksternal) untuk mencapai tujuan unit kerja dan perusahaan secara
luas. Apabila job description telah tersusun dengan baik, maka job
spesification atau spesifikasi jabatan akan mulai dikembangkan. Selanjutnya
tatanan birokrasi, dimana Birokrasi merupakan struktur tatanan organisasi,
bagan, pembagian kerja dan hierarki yang terdapat pada sebuah lembaga yang
penting untuk menjalankan tugas-tugas agar lebih teratur, seperti contohnya
pada pemerintahan, rumah sakit, sekolah, militer dll. dan selanjutnya pengaturan hubungan antar
unit organisasi, gaya kepemimpinan , dimana Gaya kepemimpinan mengacu pada
perilaku karakteristik pemimpin saat mengarahkan, memotivasi, membimbing, dan
mengelola sekelompok orang. Pemimpin hebat bisa menginspirasi gerakan politik
dan perubahan sosial. Mereka juga dapat memotivasi orang lain untuk tampil,
berkreasi, dan berinovasi, dan aspek struktur sekolah lainnya.
2.
Pendekatan budaya
Dimana pendekatan ini memusatkan
perahtian lebih kepada budaya keunggulan atau yang hiasa disebut dengan (
culture of excellence), yang tentunya lebih menekankan pengubahan pada pikiran,
pada kata-kata, pada sikap, pada perbuatan dan pada hati setiap warga sekolah.
Dan disini pendekatan budaya untuk mengembangkan atau meningkatkan kinerja
sekolah tentunya semua itu akan lebih efektif dibandingkan dengan pendekatan
sebelumnya yakni pendekatan struktural.
Dari Kedua pendapat di atas, telah
mengingatkan pada sejumlah konsep-konsep
pokok dalam literatur berjudul “Culture Matters: How Values Shape Human
Progress” (Harrison & Huntington, 2000) yang dimana dalam perkembangannya
para ahli ilmu sosial mulai memberikan perhatian pada faktor kultural dalam
menjelaskan berbagai realitas di masyarakat yang terkait dengan isu
pembangunan, isu modernisasi,isu demokratisasi, dan isu lain-lain. Dan yang
saya baca dapat saya simpulkan bahwa kemajuan ataupun ketertinggalan tidak lah
di sebabkan oleh faktor dari luar masyarakat, tapi melainkan oleh karena faktor
internal yang berasal dari dalam
masyarakat itu sendiri. Dan Masyarakat sendirilah yang memilih untuk maju atau
tertinggal. Oleh karena itu di dalam hal ini tentunya bukan hanya faktor dari
luar yang mempengaruhi, tetapi faktor dari dalam itulah yang mempengaruhi mau
seperti apa kita, mau maju atau tertinggal. Faktor internal tersebut tidak lain
adalah budaya. Budaya inilah faktor utama nya dalam hal ini. Tidak ada definisi
tunggal mengenai kebudayaan.
thick description) dalam
menjelaskan jalan hidup masyarakat (the way of life of a society) yang
meliputi:
1. Nilai,
adalah alat yang menunjukkan alasan dasar bahwa "cara pelaksanaan atau
keadaan akhir tertentu lebih disukai secara sosialdibandingkan cara pelaksanaan
atau keadaan akhir yang berlawanan Nilai memuat elemen pertimbangan yang
membawa ide-ide seorang individu mengenai hal-hal yang benar, baik, atau
diinginkan.
2. Praktik,
merupakan suatu tindakan yang domain utamanya adalah sikap, namun sikap belum
otomatis terwujud dalam suatu tindakan (behavior). Suatu sikap dapat terwujud
menjadi suatu tindakan nyata maka diperlukan faktor pendukung atau suatu
kondisi yang memungkinkan terjadinya suatu tindakan tersebut. Faktor pendukung
tersebut meliputi faktor fasilitas dan faktor dukungan.
3. Simbol, adalah lambang yang mengandung makna atau
arti. Kata simbol dalam bahasa Inggris: symbol; Latin symbolium, berasal dari
bahasa Yunani symbolon (symballo) yang berarti menarik kesimpulan, berarti atau
memberi kesan.
4. Institusi, merupakan suatu organisasi yang ada dan
pendiriannya atas dasar tujuan yang nantinya akan langsung berhubungan dengan
masyarakat. Kebanyakan institusi yang berdisi dengan tujuan untuk memberikan
pendidikan pada kalangan umum. Institusi merupakan segala daya tahap struktur
yang mekanismenya berdasarkan tatanan sosial serta kerjasama dalam pembentukkan
perilaku setiap individu yang terlibat dalam suatu institusi tertentu. Dalam
pembentukan perilaku yang berperan aktif bukan hanya pihak institusi saja akan
tetapi segala
5. Relasi
sosial, merupakan hubungan timbal balik antar individu yang satu dengan
individu yang lain dan saling mempengaruhi.15 Mei 2019
Dari yang saya baca Budaya sekolah
merupakan himpunan norma- norma, nilai-nilai dan keyakinan, ritual dan upacara,
simbol dan cerita yang membentuk persona sekolah. Disini tertulis harapan untuk
membangun dari waktu ke waktu sebagai guru, administrator, orang tua, dan siswa
bekerja sama, memecahkan masalah, menghadapi tantangan dan mengatasi kegagalan.
Dan Setiap sekolah memiliki seperangkat harapan tentang apa yang dapat dibahas
pada rapat staf, bagaimana teknik mengajar yang baik, dan pentingnya pengembangan
staf. Budaya sekolah juga merupakan cara berpikir tentang sekolah dan berurusan
dengan budaya dimana mereka bekerja. Dan Budaya sekolah juga merupakan jaringan
tradisi dan ritual yang kompleks, yang telah dibangun dari waktu ke waktu oleh
guru, siswa, orangtua, dan administrator yang bekerja sama dalam menangani
krisis dan prestasi. Pola budaya sangat abadi, memiliki dampak yang kuat pada
kinerja, dan membentuk bagaimana orang berpikir, bertindak, dan merasa. Dan
Dalam perjalanannya, sekolah juga memiliki kebiasaan dan upacara-komunal untuk
merayakan keberhasilan, untuk memberikan kesempatan selama transisi kolektif,
dan untuk mengakui kontribusi masyarakat terhadap sekolah. Dan dari yang saya
baca bahwa Budaya sekolah juga meliputi simbol dan cerita yang
mengkomunikasikan nilai-nilai inti, memperkuat misi, membangun komitmen, dan
rasa kebersamaan. Simbol adalah tanda lahiriyah nilai. Cerita merupakan
representasi sejarah dan makna kelompok. Dalam budaya positif, fitur tersebut
memperkuat proses pembelajaran, komitmen, dan motivasi, karena menjamin para
anggota konsisten dengan visi sekolah. Di sekolah, ada ritual yang kompleks
dalam hubungan interpersonal, satu set kebiasaan, adat istiadat, dan sanksi
irasional, kode moral yang berlaku di antara mereka. Orangtua, guru, kepala
sekolah, dan siswa selalu merasakan sesuatu yang istimewa, namun seringkali tak
terdefinisikan, tentang sekolah mereka, tentang sesuatu yang sangat kuat namun
sulit untuk dijelaskan. Kenyataan ini, merupakan aspek sekolah yang sering
diabaikan dan akibatnya seringkali tidak hadir dalam diskusi- diskusi tentang
upaya perbaikan sekolah. Sekolah berperan dalam menyampaikan kebudayaan dari
generasi ke generasi dan oleh karena itu harus selalu memperhatikan kondisi
masyarakat dan kebudayaan umum. Namun demikian, di sekolah itu sendiri timbul
pola kelakuan tertentu. Kebudayaan sekolah merupakan bagian dari kebudayaan
masyarakat luas, namun mempunyai ciri-ciri yang khas/unik sebagai suatu
sub-kebudayaan/sub-culture (Nasution, 1999). Timbulnya sub-kebudayaan sekolah
juga terjadi karena sebagian besar dari waktu siswa terpisah dari kehidupan
orang dewasa. Dalam kondisi demikian, dapat berkembang pola perilaku yang khas
bagi siswa yang tampak dari pakaian, bahasa, kebiasaan, kegiatan-kegiatan,
serta upacara- upacara. Sebab lain timbulnya kebudayaan sekolah adalah tugas
sekolah yang khas yakni mendidik anak melalui penyampaian sejumlah pengetahuan
(kognitif), sikap (afektif), ketrampilan (psikomotorik) yang sesuai dengan
kurikulum dengan metode dan teknik kontrol tertentu yang berlaku di sekolah
itu. Sebagai sub-kultur, kultur sekolah hadir dalam berbagai variasi dalam
praktiknya. menurut Harrison &
Huntington (2000), terdapat dua kategori nilai, yaitu nilai intrinsik dan nilai
instrumental. Nilai intrinsik merupakan nilai yang ditegakkan tanpa
memperhatikan untung/rugi, misalnya: nilai patriotisme. Sedangkan nilai
instrumental merupakan nilai yang didukung karena menguntungkan, misalnya
produktivitas. Visi misi tujuan dan nilai-nilai dalam budaya merupakan unsur
yang penting. Pentingnya tujuan bermakna norma-norma yang positif, dan
nilai-nilai yang dipegang teguh untuk menambahkan semangat dan vitalitas untuk
perbaikan sekolah. Guru dapat berhasil dalam memfokuskan budaya pada
produktivitas, kinerja, dan upaya perbaikan. Budaya membantu para guru dalam
mengatasi ketidakpastian pekerjaan mereka dengan memberikan fokus pada
kolegialitas. Hal ini penting untuk memberikan motivasi sosial dalam suatu
pekerjaan yang menuntut mereka siap mengajar tigapuluh anak di ruang kelas.
Budaya mendorong, memberi sanksi, dan memberi penghargaan pada tugas
profesional untuk meningkatkan ketrampilan mereka.
dalam praktiknya seringkali justru
terlewatkan perbaikan sekolah antara lain:
1. Culture
fosters school effectiveness and productivity (Budaya mendorong terwujudnya
efektivitas dan produktivitas sekolah).
2. Culture
improves collegial and collaborative activities that fosters better
communication and problem solving practices (Budaya meningkatkan kegiatan
kolegial dan kolaboratif yang mendorong perbaikan komunikasi dan praktik
pemecahan masalah).
3.
Culture fosters successful change and improvement efforts (Budaya mendorong
upaya keberhasilan perubahan dan perbaikan).
4. Culture
builds commitment and identification of staffs, students, and administrators
(Budaya membangun komitmen dan identifikasi dari para staf, siswa dan tenaga
administrasi).
5. Culture
amplifies the energy, motivation, and vitality of a school staff, students, and
community (Budaya menguatkan energi, motivasi, dan vitalitas dari staf sekolah,
siswa, dan komunitas/masyarakat).
6. Culture
increases the focus of daily behavior and attention on what is important and
valued (Budaya meningkatkan fokus pada perilaku keseharian dan perhatian pada
apa yang penting dan bernilai/berharga).
Yang saya baca dari jurnal ada
beberapa kultur sekolah yang dapat dikembangkan antara lain yang kondusif bagi
pengembangan:
1. Prestasi
Akademik
2. Non-Akademik
3. Karakter
4. Kelestarian
Lingkungan Hidup
Diatas tadi merupakan sejumlah
contoh kultur sekolah yang dapat dikembangkan oleh tiap-tiap sekolah. Masih
terbuka bagi sejumlah alternatif lain sesuai karakteristik dan kreativitas
masing-masing sekolah. Program sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan dan
mengembangkan kultur sekolah dapat bervariasi karena tidakada model tunggal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar