LAPORAN BACAAN
OLEH
KHAIRUS SYA’BANI
11901102
PAI 4D
Identitas Buku/ jurnal
Judul: PENGEMBANGAN
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN BERBASIS PENDEKATAN SAINTIFIK OLEH GURU SD DAN
MI DI KOTA SABANG
Penulis: Wati Oviana
Penerbit: Fakultas
Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry Banda Aceh
pengembangan
terhadap kurikulum sangat penting dilakukan secara berkelanjutan sesuai dengan
kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni budaya serta perubahan masyarakat
baik lokal, nasional, maupun global di masa depan. sehingga produk dari proses
pendidikan diharapkan dapat menghasilkan generasi bangsa yang berkarakter dan
bermartabat serta mampu berdayasaing secara global. Penyempurnaan kurikulum
KTSP menjadi kurikulum 2013 merupakan hasil evaluasi pemerintah dengan
menganalisis dan melihat perlunya diterapkan kurikulum yang berbasis kompetensi
sekaligus berbasis karakter sehingga dapat membekali peserta didik dengan
berbagai sikap, kemampuan dan ketrampilan yang sesuai dengan tuntutan
perkembangan zaman. Dengan demikian melalui kurikulum 2013 pemerintah
(Mendikbud) merevitalisasi pendidikan karakter dalam seluruh jenis dan jenjang
pendidikan. Menurut Kemendikbud 2013 terdapat empat elemen perubahan kurikulum
2013 antara lain: standar kompetensi lulusan, standar isi, standar penilaian dan
standar proses pendidikan. Dalam elemen standar proses pendidikan terdapat
beberapa perbedaan antara kurikulum 2013 dengan kurikulum KTSP dimana proses
pelaksanaan pendidikan yang pada kurikulum KTSP berfokus pada eksplorasi,
elaborasi dan konfirmasi disempurnakan menjadi mengamati, menanya, mencoba,
menalar, mengkomunikasikan yang dikenal dengan pendekatan saintifik. Penerapan
pendekatan saintifik ini menjadi salah satu standar proses pembelajaran
kurikulum 2013 dalam mengajarkan seluruh mata pelajaran khususnya dalam
pengembangan aspek ketrampilan siswa hal ini berbeda dengan kurikulum KTSP
dimana setiap mata pelajaran menggunakan pendekatan yang berbeda. Merujuk pada
peraturan ini maka sudah seharusnya pelaksanaan pembelajaran yang menggunakan
kurikulum 2013 harus berlandaskan pada pendekatan saintifik sehingga
pengembangan keterampilan siswa dapat diwujudkan.
Pendekatan
saintifik bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik dalam
mengenal dan memahami berbagai materi dengan menggunakan pendekatan ilmiah,
sehingga siswa menyadari bahwa informasi bisa berasal dari manasaja, kapan saja
dan tidak bergantung pendekatan
saintifik dalam pembelajaran melibatkan keterampilan proses seperti mengamati,
menanya, mencoba, menalar, dan mengkomunikasikan. Dalam melaksanakan pendekatan
saintifik tersebut dibutuhkan guru yang dapat memahami dengan baik tentang
pendekatan saintifik sehingga mampu merencanakan dan melaksanakan proses
belajar yang memunculkan aspek-aspek saintifik sehingga sesuai dengan aturan
pelaksanaan kurikulum 2013. Guru sebagai pelaksana kurikulum menjadi ujung
tombak terlaksananya kurikulum ideal sesuai dengan aturan pemerintah. Sebaik
apapun kurikulum dirancang kalau guru tidak dapat memahami kurikulum tersebut
dengan baik maka kurikulum ideal tersebut hanya akan menjadi dokumen terencana
yang tidakakan membawa perubahan pada peningkatan kualitas pendidikan nasional.
Hal ini sesuai dengan pendapat Mulyasa bahwa kekurangpahaman guru teradap
kurikulum akan berakibat fatal terhadap capaian kompetensi peserta didik baik
pengetahuan, sikap maupun ketrampilan. karena pada hakekatnya kurikulum
merupakan pedoman atau acuan bagi guru dalam melakansakan proses pembelajaran
agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan obtimal. Agar guru dapat melakasanan pembelajaran yang
berbasis saintifik maka guru harus mempunyai kemampuan merencanakan
pembelajaran dengan baik.
Kemampuan
dalam merencanakan pembelajaran diperlukan supaya pembelajaran yang dilakukan
terarah dan tujuan pembelajaran dapat dicapai. Perencanaan pembelajaran juga
merupakan suatu proyeksi tentang apa yang diperlukan dalam rangka mencapai
tujuan yang absah dan bernilai. Jadi bagaimana gambaran dari kegiatan pembelajaran
yang akan diterapkan di kelas sangat tergantung pada apa yang telah dituangkan
guru dalam RPP. Dengan demikian dapat dipahami bahwa Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) merupakan rancangan pembelajaran mata pelajaran per unit
yang akan diterapkan guru dalam pembelajarannya di kelas. Hakekat dari RPP merupakan
upaya untuk memperkirakan tindakan apa yang akan dilakukan guru dalam kegiatan
pembelajaran.6 Dalam RPP memuat aktivitas secara keseluruhan sebelum kegiatan
yang sesungguhnya dilaksanakan. RPP yang disusun secara baik menjadi jaminan
separuh kegiatan telah berhasil dilaksanakan. Sebaliknya bila guru gagal merencanakan
pembelajaran yang berbasis pendekatan saintifik maka pelaksanaan pembelajaran
berbasis pendekatan saintifik juga sulit terlaksana.
Oleh
sebab itu, kemampuan guru dalam menyusun RPP merupakan hal yang sangat penting
karena menyusun RPP merupakan salah satu peran utama guru. RPP berbasis
Kurikulum 2013 (K13) adalah rencana pembelajaran yang disusun guru dengan
mengamanatkan esensi pendekatan ilmiah/saintifik. Berdasarkan penelitian
pendahuluan yang dilakukan peneliti pada guru MI di beberapa sekolah di kota
Banda Aceh menunjukkan bahwa hampir semua guru masih mengalami kesulitan dalam
menerapkan pendekatan saintifik baik dalam perencanaan maupun pelaksanaan
pembelajaran yang mereka lakukan dimana mereka sulit menentukan kegiatan
belajar dalam RPP maupun pelaksanaan pembelajaran yang mengindikasikan aspek
saintifik. Hal ini terjadi karena guru belum memiliki pemahaman yang baik
tentang pendekatan saintifik selain itu guru juga masih kurang menyadari
pentingnya penerapan pendekatan saintifik bagi pengembangan ketrampilan siswa
yang sangat bermanfaat bagi kehidupan siswa
Pada
hakekatnya mengamati merupakan suatu kegiatan yang dilakukan guna mendapatkan
gambaran tentang suatu benda atau suatu fenomena. Oleh sebab itu menurut Firman
mengamati bukanlah sekedar melihat tetapi merupakan suatu proses pendeskripsian
tentang sesuatu dengan menggunakan alat indra yang dimiliki prinsipnya semakin
banyak indra yang terlibat hasil pengamatan semakin baik dan gambaran yang kita
peroleh lebih lengkap. dengan demikian dapat dipahami bahwa aspek saintifik
mengamati sebaiknya dimunculkan tidak cukup hanya dengan melihat saja tetapi
juga melibatkan indra yang lain. Hal senada juga diungkapkan oleh Nuryani bahwa
kegiatan mengamati dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk memperoleh
fakta dan informasi tentang suatu objek dengan melibatkan lebih dari satu
indera. Berdasarkan hasil temuan ini dapat disimpulkan bahwa pemahaman guru tentang
aspek mengamati dengan baik akan berdampak pada munculnya aspek mengamati
dengan baik dalam RPP yang mereka kembangkan.
kemampuan
guru memunculkan aspek saintifik menanya berapa pada kategori sangat baik,
dimana semua guru sudah mampu memunculkan aspek ini dalam RPP yang mereka
kembangkan. Namun demikian kemunculan aspek menanya ini dimunculkan sebagian
besar guru dengan sangat sederhana yaitu sebagian besar guru memunculkan aspek
menanya dengan hanya memunculkan tanyajawab untuk salah satu indikator
mengamati saja walaupun beberapa guru dalam RPP yang mereka kembangkan sudah
mampu memunculkan lebih dari satu aspek mengamati. Selain itu, sebagian besar
guru juga memunculkan aspek ini tanpa diikuti dengan pertanyaan yang mungkin
dapat dimunculkan guru tentang apa yang diamati. Hal ini menunjukkan bahwa guru
belum mampu sepenuhnya memunculkan aspek menanya dengan baik. Menurut Hosnan
dalam kegiatan mengamati guru harus membuka kesempatan secara luas bagi siswa
untuk bertanya apa yang mereka lihat, baca, simak dan seterusnya. Ketidak
mampuan guru dalam memunculkan aspek bertanya dengan baik dalam RPP ini
dimungkinkan karena guru menganggap pengembangan aspek ini dalam RPP cukup
dituliskan siswa bertanya tentang hal yang dilihat dan diamati saja.
Hal
ini terungkap dari hasil wawancara guru tentang bagaimana merencanakan aspek
menanya dalam RPP sebagian besar guru menjawab dengan mengajukan pertanyaan tentang
hal yang dilihat. Pada hakekatnya, kegiatan belajar untuk aspek menanya adalah
mengajukan pertanyaan tentang informasi yang tidak dipahami dari apa yang
diamati atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang
diamati (dimulai dari pertanyaan faktual sampai pertanyaan hipotetik). Melalui
kegiatan bertanya ini pengembangan rasa ingin tahu peserta didik semakin
terlatih serta kemampuan berpikir kritis siswa juga ikut terkembangkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar