Sabtu, 03 Juli 2021

MAGANG 1, LAPORAN BACAAN KE- 5

 

LAPORAN BACAAN

OLEH

 KHAIRUS SYA’BANI

11901102

PAI 4D

Identitas Buku/ jurnal

 

Judul: PENGEMBANGAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN BERBASIS PENDEKATAN SAINTIFIK OLEH GURU SD DAN MI DI KOTA SABANG

Penulis: Wati Oviana

Penerbit: Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry Banda Aceh

 

 

pengembangan terhadap kurikulum sangat penting dilakukan secara berkelanjutan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni budaya serta perubahan masyarakat baik lokal, nasional, maupun global di masa depan. sehingga produk dari proses pendidikan diharapkan dapat menghasilkan generasi bangsa yang berkarakter dan bermartabat serta mampu berdayasaing secara global. Penyempurnaan kurikulum KTSP menjadi kurikulum 2013 merupakan hasil evaluasi pemerintah dengan menganalisis dan melihat perlunya diterapkan kurikulum yang berbasis kompetensi sekaligus berbasis karakter sehingga dapat membekali peserta didik dengan berbagai sikap, kemampuan dan ketrampilan yang sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman. Dengan demikian melalui kurikulum 2013 pemerintah (Mendikbud) merevitalisasi pendidikan karakter dalam seluruh jenis dan jenjang pendidikan. Menurut Kemendikbud 2013 terdapat empat elemen perubahan kurikulum 2013 antara lain: standar kompetensi lulusan, standar isi, standar penilaian dan standar proses pendidikan. Dalam elemen standar proses pendidikan terdapat beberapa perbedaan antara kurikulum 2013 dengan kurikulum KTSP dimana proses pelaksanaan pendidikan yang pada kurikulum KTSP berfokus pada eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi disempurnakan menjadi mengamati, menanya, mencoba, menalar, mengkomunikasikan yang dikenal dengan pendekatan saintifik. Penerapan pendekatan saintifik ini menjadi salah satu standar proses pembelajaran kurikulum 2013 dalam mengajarkan seluruh mata pelajaran khususnya dalam pengembangan aspek ketrampilan siswa hal ini berbeda dengan kurikulum KTSP dimana setiap mata pelajaran menggunakan pendekatan yang berbeda. Merujuk pada peraturan ini maka sudah seharusnya pelaksanaan pembelajaran yang menggunakan kurikulum 2013 harus berlandaskan pada pendekatan saintifik sehingga pengembangan keterampilan siswa dapat diwujudkan.

Pendekatan saintifik bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik dalam mengenal dan memahami berbagai materi dengan menggunakan pendekatan ilmiah, sehingga siswa menyadari bahwa informasi bisa berasal dari manasaja, kapan saja dan tidak bergantung   pendekatan saintifik dalam pembelajaran melibatkan keterampilan proses seperti mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengkomunikasikan. Dalam melaksanakan pendekatan saintifik tersebut dibutuhkan guru yang dapat memahami dengan baik tentang pendekatan saintifik sehingga mampu merencanakan dan melaksanakan proses belajar yang memunculkan aspek-aspek saintifik sehingga sesuai dengan aturan pelaksanaan kurikulum 2013. Guru sebagai pelaksana kurikulum menjadi ujung tombak terlaksananya kurikulum ideal sesuai dengan aturan pemerintah. Sebaik apapun kurikulum dirancang kalau guru tidak dapat memahami kurikulum tersebut dengan baik maka kurikulum ideal tersebut hanya akan menjadi dokumen terencana yang tidakakan membawa perubahan pada peningkatan kualitas pendidikan nasional. Hal ini sesuai dengan pendapat Mulyasa bahwa kekurangpahaman guru teradap kurikulum akan berakibat fatal terhadap capaian kompetensi peserta didik baik pengetahuan, sikap maupun ketrampilan. karena pada hakekatnya kurikulum merupakan pedoman atau acuan bagi guru dalam melakansakan proses pembelajaran agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan obtimal.  Agar guru dapat melakasanan pembelajaran yang berbasis saintifik maka guru harus mempunyai kemampuan merencanakan pembelajaran dengan baik.

Kemampuan dalam merencanakan pembelajaran diperlukan supaya pembelajaran yang dilakukan terarah dan tujuan pembelajaran dapat dicapai. Perencanaan pembelajaran juga merupakan suatu proyeksi tentang apa yang diperlukan dalam rangka mencapai tujuan yang absah dan bernilai. Jadi bagaimana gambaran dari kegiatan pembelajaran yang akan diterapkan di kelas sangat tergantung pada apa yang telah dituangkan guru dalam RPP. Dengan demikian dapat dipahami bahwa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan rancangan pembelajaran mata pelajaran per unit yang akan diterapkan guru dalam pembelajarannya di kelas. Hakekat dari RPP merupakan upaya untuk memperkirakan tindakan apa yang akan dilakukan guru dalam kegiatan pembelajaran.6 Dalam RPP memuat aktivitas secara keseluruhan sebelum kegiatan yang sesungguhnya dilaksanakan. RPP yang disusun secara baik menjadi jaminan separuh kegiatan telah berhasil dilaksanakan. Sebaliknya bila guru gagal merencanakan pembelajaran yang berbasis pendekatan saintifik maka pelaksanaan pembelajaran berbasis pendekatan saintifik juga sulit terlaksana.

Oleh sebab itu, kemampuan guru dalam menyusun RPP merupakan hal yang sangat penting karena menyusun RPP merupakan salah satu peran utama guru. RPP berbasis Kurikulum 2013 (K13) adalah rencana pembelajaran yang disusun guru dengan mengamanatkan esensi pendekatan ilmiah/saintifik. Berdasarkan penelitian pendahuluan yang dilakukan peneliti pada guru MI di beberapa sekolah di kota Banda Aceh menunjukkan bahwa hampir semua guru masih mengalami kesulitan dalam menerapkan pendekatan saintifik baik dalam perencanaan maupun pelaksanaan pembelajaran yang mereka lakukan dimana mereka sulit menentukan kegiatan belajar dalam RPP maupun pelaksanaan pembelajaran yang mengindikasikan aspek saintifik. Hal ini terjadi karena guru belum memiliki pemahaman yang baik tentang pendekatan saintifik selain itu guru juga masih kurang menyadari pentingnya penerapan pendekatan saintifik bagi pengembangan ketrampilan siswa yang sangat bermanfaat bagi kehidupan siswa

Pada hakekatnya mengamati merupakan suatu kegiatan yang dilakukan guna mendapatkan gambaran tentang suatu benda atau suatu fenomena. Oleh sebab itu menurut Firman mengamati bukanlah sekedar melihat tetapi merupakan suatu proses pendeskripsian tentang sesuatu dengan menggunakan alat indra yang dimiliki prinsipnya semakin banyak indra yang terlibat hasil pengamatan semakin baik dan gambaran yang kita peroleh lebih lengkap. dengan demikian dapat dipahami bahwa aspek saintifik mengamati sebaiknya dimunculkan tidak cukup hanya dengan melihat saja tetapi juga melibatkan indra yang lain. Hal senada juga diungkapkan oleh Nuryani bahwa kegiatan mengamati dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk memperoleh fakta dan informasi tentang suatu objek dengan melibatkan lebih dari satu indera. Berdasarkan hasil temuan ini dapat disimpulkan bahwa pemahaman guru tentang aspek mengamati dengan baik akan berdampak pada munculnya aspek mengamati dengan baik dalam RPP yang mereka kembangkan.

kemampuan guru memunculkan aspek saintifik menanya berapa pada kategori sangat baik, dimana semua guru sudah mampu memunculkan aspek ini dalam RPP yang mereka kembangkan. Namun demikian kemunculan aspek menanya ini dimunculkan sebagian besar guru dengan sangat sederhana yaitu sebagian besar guru memunculkan aspek menanya dengan hanya memunculkan tanyajawab untuk salah satu indikator mengamati saja walaupun beberapa guru dalam RPP yang mereka kembangkan sudah mampu memunculkan lebih dari satu aspek mengamati. Selain itu, sebagian besar guru juga memunculkan aspek ini tanpa diikuti dengan pertanyaan yang mungkin dapat dimunculkan guru tentang apa yang diamati. Hal ini menunjukkan bahwa guru belum mampu sepenuhnya memunculkan aspek menanya dengan baik. Menurut Hosnan dalam kegiatan mengamati guru harus membuka kesempatan secara luas bagi siswa untuk bertanya apa yang mereka lihat, baca, simak dan seterusnya. Ketidak mampuan guru dalam memunculkan aspek bertanya dengan baik dalam RPP ini dimungkinkan karena guru menganggap pengembangan aspek ini dalam RPP cukup dituliskan siswa bertanya tentang hal yang dilihat dan diamati saja.

Hal ini terungkap dari hasil wawancara guru tentang bagaimana merencanakan aspek menanya dalam RPP sebagian besar guru menjawab dengan mengajukan pertanyaan tentang hal yang dilihat. Pada hakekatnya, kegiatan belajar untuk aspek menanya adalah mengajukan pertanyaan tentang informasi yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang diamati (dimulai dari pertanyaan faktual sampai pertanyaan hipotetik). Melalui kegiatan bertanya ini pengembangan rasa ingin tahu peserta didik semakin terlatih serta kemampuan berpikir kritis siswa juga ikut terkembangkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar