LAPORAN BACAAN
OLEH
KHAIRUS SYA’BANI
11901102
PAI 4D
Identitas Buku/ jurnal
Judul: MANAJEMEN SEKOLAH UNTUK MENCAPAI SEKOLAH
UNGGUL YANG MENYENANGKAN: STUDI KASUS DI SMAN 1 SLEMAN YOGYAKARTA
Penulis: Lia Yuliana
Penerbit: Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas
Negeri Yogyakarta
Volume: , Vol. 1, Nomor 2, Agustus 2016
Dalam
mencapai tujuan penyelenggaraan sekolah yang efektif diperlukan pengelolaan sekolah
sesuai kondisi dan situasi tempat sekolah tersebut diselenggarakan. Untuk
pengelolaan sekolah, seorang kepala sekolah atau pemimpin harus memberi
perhatian terhadap aspek informal, aspek simbolik, dan aspek yang tidak tampak
dari kehidupan sekolah yang telah membentuk keyakinan dan tindakan tiap warga sekolah.
Kepala sekolah mempunyai tugas dalam menciptakan atau membentuk dan mendukung kultur
untuk menguatkan sikap efektif dalam segala hal yang dikerjakan di sekolah.
Dengan menggunakan 10 indikator organisasi yang sehat, Macneil, Prater, &
Busch (2010) melakukan penelitian terhadap tiga jenis sekolah yaitu, sekolah
unggulan, sekolah contoh, dan sekolah kebanyakan. Penelitian tersebut memperlihatkan
bahwa sekolah contoh lebih baik daripada sekolah kebanyakan, tidak ditemukan perbedaan
yang signifikan antara sekolah contoh dan unggulan , tetapi perbedaan signifikan
terlihat pada sekolah unggulan yang lebih baik daripada sekolah kebanyakan
dalam dimensi fokus dan adaptasi sekolah. Dengan demikian, suasana atau iklim
budaya sekolah yang sehat akan mempengaruhi prestasi belajar siswa di sekolah.
Kepala sekolah bertanggung jawab untuk membangun budaya dalam pelaksanaan
proses belajar mengajar di sekolah. Bukan hanya dengan cara mengubah struktur dan
fungsi sekolah beroperasi karena harus terlebih dahulu memahami budaya sekolah
bukan hanya mengelolanya saja. Hal ini penting untuk menyadari budaya yang
kompleks karena memiliki cara yang sangat unik dan istimewa dari bekerja.
Strategi yang dikembangkan dalam penggunaan
manajemen mutu terpadu dalam dunia pendidikan adalah institusi pendidikan memposisikan
dirinya sebagai institusi jasa atau dengan kata lain menjadi industri jasa.
Institusi yang memberikan pelayanan (service) sesuai dengan keinginan para
pelanggan (customer). Oleh karenanya, dalam memposisikan institusi pendidikan
sebagai industri jasa harus memenuhi standar mutu. Pengertian ini tidak
menekankan suatu komponen dalam sistem pendidikan, tetapi menyangkut seluruh
komponen penyelenggaraan pendidikan yaitu input, proses, dan output. Total quality
management merupakan proses peningkatan mutu secara utuh, dan bila prosesnya dilakukan
secara mandiri maka manajemen mutu terpadu terdiri dari tiga tahap peningkatan
mutu secara kontinu (three steps to continuous improvement), yaitu: 1) perhatian
penuh kepada pelanggan, baik pelanggan internal maupun eksternal; 2) pembinaan
proses; dan 3) keterlibatan secara total. Manajemen mutu terpadu merupakan
salah satu ikhtiar agar dapat meningkatkan mutu sekolah dengan melalui perbaikan
terus-menerus berkesinambungan atas kualitas produk, jasa manusia, proses dan lingkungan
organisasi. Dengan demikian, pengelolaan sekolah yang e fektif harus melibatkan
semua komponen di sekolah untuk bersama-sama mencapai visi sekolah dalammenuju
sekolah yang berprestasi dan dapat memberikan kepuasan pelanggan (Suryani, 2013).
Kultur
sekolah bersumber dari spirit dan nilainilai yang dianut oleh sekolah. Menurut
Zamroni (2002) nilai-nilai tersebut menjadi sumber kualitas kehidupan sekolah
dalam rangka menumbuhkembangkan kecakapan hidup siswa, diantaranya sebagai
berikut: 1) nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan; 2) nilai-nilai kejujuran; 3)
nilai-nilai keterbukaan; 4) nilai-nilai semangat hidup; 5) nilai-nilai semangat
belajar; 6) nilainilai menyadari diri sendiri dan keberadaan orang lain; 7)
nilai-nilai untuk menghargai orang lain; 8) nilai-nilai persatuan dan kesatuan;
9) nilainilai untuk selalu bersikap dan prasangka positif; 10) nilai-nilai
disiplin diri; dan 11) nilai-nilai kebersamaan. Meningkatkan kultur sekolah
yang baik perlu kerja sama pihak sekolah dengan orang yang peduli terhadap
pendidikan dan butuh waktu yang cukup lama. Pendapat tersebut, dapat diketahui
bahwa kultur sekolah merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan dan dikembangkan.
Kultur sekolah dibagi menjadi tiga, yaitu artifak di permukaan, nilai-nilai dan
keyakinan di tengah, dan asumsi dasar. Artifak adalah lapisan kultur sekolah
yang paling mudah diamati seperti aneka ritual sehari-hari di sekolah, berbagai
upacara, benda-benda simbolik di sekolah, dan aneka ragam kebiasaan yang
berlangsung di sekolah. Keberadaan kultur ini dengan cepat dapat dirasakan
ketika orang mengadakan kontak dengan suatu sekolah. Aspek kultur ini kemudian
dimanifestasikan dalam aspek kultur yang nyata dan diamati, yakni artifak fisik
maupun prilaku. Dengan demikian keadaan fisik dan prilaku warga sekolah
didasari oleh asumsi, nilai-nilai dan keyakinan (Zamroni, 2002).
Kepala
sekolah sebagai sentral pengembangan kultur sekolah harus dapat menjadi contoh
dalam berinteraksi di sekolah. Kepala sekolah adalah figur yang memiliki
komitmen terhadap tugas sekolah, jujur dalam kata dan perbuatan dan selalu
bermusyawarah dalam membuat kebijakan sekolah, rumah dan menghargai pendapat
orang lain. Selain itu, kepala sekolah merupakan model bagi wargasekolah.
Keadaan pemikiran di atas, peran guru dalam
menciptakan kultur sekolah memberi pengaruh yang besar terhadap proses pembelajaran
yang dilakukan di sekolah. Guru merupakan sosok yang harus bisa menjadi pentransfer
nilai-nilai dan ilmu pengetahuan kepada siswa, sekaligus menjadi teladan dan sosok
yang dapat dijadikan figur untuk diteladani oleh siswa. Ini dilakukan guru
untuk menciptakan kultur sekolah yang mencerminkan nilai-nilai kultur sekolah
termasuk diantaranya yaitu nilai keyakinan akan nilai-nilai serta
kebiasaankebiasaan, dilakukan untuk dapat menjadi pegangan bagi siswa dalam
menghadapi berbagai permasalahan yang dihadapi. Oleh karena itu, antara guru
dan siswa harus bersinergi dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran (Agus
Supriyono, 2012). Selain pembentukan kultur sekolah yang dilakukan di dalam
kelas, semua warga sekolah juga harus membentuk iklim sekolah yang kondusif di
luar kelas. Kultur sekolah di luar kelas ini seperti adanya pembentukan
kebiasaankebiasaan positif yang harus diterapkan oleh semua warga sekolah,
seperti membiasakan senyum ketika bertemu guru dan teman sebaya, membiasakan
untuk menjaga kebersihan lingkungan sekolah, tidak berkata-kata kasar, dan
tidak berbuat keributan. Kesemuanya itu diharapkan akan dapat membentuk mental
positif siswa dalam kehidupan sehari-hari, baik ketika berada di lingkungan
sekolah maupun ketika berada di tempat tinggal siswa.
Hasil
penelitian Siswanto (2014), menjelaskan penerapan kultur sekolah yang positif
di luar kelas ini sangat penting, terutama untuk membiasakan siswa dalam
berinteraksi dengan orang lain. Siswa bisa memilih teman yang dapat memberi
motivasi belajar dan menghindari teman yang dapat memberi dampak negatif bagi
diri sendiri. Contoh bergaul dengan teman yangmalas belajar, suka bermain game, teman dengan gaya hidup mewah
yang melupakan pendidikan, dan masih banyak lagi. Hal-hal men jadi lupa akan
kepentingan belajar (Siswanto, 2014). Berdasarkan uraian di atas, budaya
sekolah harus dibangun oleh semua warga sekolah. Kepala sekolah dan guru harus dapat
menjadikan sosok teladan yang dapat dijadikan sebagai panutan. Budaya sekolah dimulai
dari pembiasaan perilaku harian seperti peribadatan, kehadiran tepat waktu,
membuang sampah pada tempatnya, berpakian rapi dan lain-lain.
Dalam
meningkatkan kualitas kehidupan maka salah satunya ditentukan oleh faktor
pendidikan seseorang. Pendidikan bagi seseorang memiliki arti strategis untuk
mencapai kesuksesan dalam kehidupan. Pendidikan dapat diperoleh melalui
pendidikan formal atau nonformal. Permasalahan utama dalam pendidikan adalah
bagaimana menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas. Faktor yang diduga
dapat mempengaruhi penyelenggaraan pendidikan adalah ketersediaan sarana dan
prasarana pembelajaran, aktivitas dan kreativitas guru dan siswa dalam proses
belajar mengajar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar