Minggu, 04 Juli 2021

MAGANG 1, LAPORAN BACAAN KE- 7

 

LAPORAN BACAAN

OLEH

 KHAIRUS SYA’BANI

11901102

PAI 4D

Identitas Buku/ jurnal 

Judul: MANAJEMEN SEKOLAH UNTUK MENCAPAI SEKOLAH UNGGUL YANG MENYENANGKAN: STUDI KASUS DI SMAN 1 SLEMAN YOGYAKARTA

Penulis: Lia Yuliana

Penerbit: Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta

Volume: , Vol. 1, Nomor 2, Agustus 2016

 

Dalam mencapai tujuan penyelenggaraan sekolah yang efektif diperlukan pengelolaan sekolah sesuai kondisi dan situasi tempat sekolah tersebut diselenggarakan. Untuk pengelolaan sekolah, seorang kepala sekolah atau pemimpin harus memberi perhatian terhadap aspek informal, aspek simbolik, dan aspek yang tidak tampak dari kehidupan sekolah yang telah membentuk keyakinan dan tindakan tiap warga sekolah. Kepala sekolah mempunyai tugas dalam menciptakan atau membentuk dan mendukung kultur untuk menguatkan sikap efektif dalam segala hal yang dikerjakan di sekolah. Dengan menggunakan 10 indikator organisasi yang sehat, Macneil, Prater, & Busch (2010) melakukan penelitian terhadap tiga jenis sekolah yaitu, sekolah unggulan, sekolah contoh, dan sekolah kebanyakan. Penelitian tersebut memperlihatkan bahwa sekolah contoh lebih baik daripada sekolah kebanyakan, tidak ditemukan perbedaan yang signifikan antara sekolah contoh dan unggulan , tetapi perbedaan signifikan terlihat pada sekolah unggulan yang lebih baik daripada sekolah kebanyakan dalam dimensi fokus dan adaptasi sekolah. Dengan demikian, suasana atau iklim budaya sekolah yang sehat akan mempengaruhi prestasi belajar siswa di sekolah. Kepala sekolah bertanggung jawab untuk membangun budaya dalam pelaksanaan proses belajar mengajar di sekolah. Bukan hanya dengan cara mengubah struktur dan fungsi sekolah beroperasi karena harus terlebih dahulu memahami budaya sekolah bukan hanya mengelolanya saja. Hal ini penting untuk menyadari budaya yang kompleks karena memiliki cara yang sangat unik dan istimewa dari bekerja.

 Strategi yang dikembangkan dalam penggunaan manajemen mutu terpadu dalam dunia pendidikan adalah institusi pendidikan memposisikan dirinya sebagai institusi jasa atau dengan kata lain menjadi industri jasa. Institusi yang memberikan pelayanan (service) sesuai dengan keinginan para pelanggan (customer). Oleh karenanya, dalam memposisikan institusi pendidikan sebagai industri jasa harus memenuhi standar mutu. Pengertian ini tidak menekankan suatu komponen dalam sistem pendidikan, tetapi menyangkut seluruh komponen penyelenggaraan pendidikan yaitu input, proses, dan output. Total quality management merupakan proses peningkatan mutu secara utuh, dan bila prosesnya dilakukan secara mandiri maka manajemen mutu terpadu terdiri dari tiga tahap peningkatan mutu secara kontinu (three steps to continuous improvement), yaitu: 1) perhatian penuh kepada pelanggan, baik pelanggan internal maupun eksternal; 2) pembinaan proses; dan 3) keterlibatan secara total. Manajemen mutu terpadu merupakan salah satu ikhtiar agar dapat meningkatkan mutu sekolah dengan melalui perbaikan terus-menerus berkesinambungan atas kualitas produk, jasa manusia, proses dan lingkungan organisasi. Dengan demikian, pengelolaan sekolah yang e fektif harus melibatkan semua komponen di sekolah untuk bersama-sama mencapai visi sekolah dalammenuju sekolah yang berprestasi dan dapat memberikan kepuasan pelanggan (Suryani, 2013).

Kultur sekolah bersumber dari spirit dan nilainilai yang dianut oleh sekolah. Menurut Zamroni (2002) nilai-nilai tersebut menjadi sumber kualitas kehidupan sekolah dalam rangka menumbuhkembangkan kecakapan hidup siswa, diantaranya sebagai berikut: 1) nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan; 2) nilai-nilai kejujuran; 3) nilai-nilai keterbukaan; 4) nilai-nilai semangat hidup; 5) nilai-nilai semangat belajar; 6) nilainilai menyadari diri sendiri dan keberadaan orang lain; 7) nilai-nilai untuk menghargai orang lain; 8) nilai-nilai persatuan dan kesatuan; 9) nilainilai untuk selalu bersikap dan prasangka positif; 10) nilai-nilai disiplin diri; dan 11) nilai-nilai kebersamaan. Meningkatkan kultur sekolah yang baik perlu kerja sama pihak sekolah dengan orang yang peduli terhadap pendidikan dan butuh waktu yang cukup lama. Pendapat tersebut, dapat diketahui bahwa kultur sekolah merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan dan dikembangkan. Kultur sekolah dibagi menjadi tiga, yaitu artifak di permukaan, nilai-nilai dan keyakinan di tengah, dan asumsi dasar. Artifak adalah lapisan kultur sekolah yang paling mudah diamati seperti aneka ritual sehari-hari di sekolah, berbagai upacara, benda-benda simbolik di sekolah, dan aneka ragam kebiasaan yang berlangsung di sekolah. Keberadaan kultur ini dengan cepat dapat dirasakan ketika orang mengadakan kontak dengan suatu sekolah. Aspek kultur ini kemudian dimanifestasikan dalam aspek kultur yang nyata dan diamati, yakni artifak fisik maupun prilaku. Dengan demikian keadaan fisik dan prilaku warga sekolah didasari oleh asumsi, nilai-nilai dan keyakinan (Zamroni, 2002).

Kepala sekolah sebagai sentral pengembangan kultur sekolah harus dapat menjadi contoh dalam berinteraksi di sekolah. Kepala sekolah adalah figur yang memiliki komitmen terhadap tugas sekolah, jujur dalam kata dan perbuatan dan selalu bermusyawarah dalam membuat kebijakan sekolah, rumah dan menghargai pendapat orang lain. Selain itu, kepala sekolah merupakan model bagi wargasekolah. Keadaan pemikiran di atas, peran guru  dalam menciptakan kultur sekolah memberi pengaruh yang besar terhadap proses pembelajaran yang dilakukan di sekolah. Guru merupakan sosok yang harus bisa menjadi pentransfer nilai-nilai dan ilmu pengetahuan kepada siswa, sekaligus menjadi teladan dan sosok yang dapat dijadikan figur untuk diteladani oleh siswa. Ini dilakukan guru untuk menciptakan kultur sekolah yang mencerminkan nilai-nilai kultur sekolah termasuk diantaranya yaitu nilai keyakinan akan nilai-nilai serta kebiasaankebiasaan, dilakukan untuk dapat menjadi pegangan bagi siswa dalam menghadapi berbagai permasalahan yang dihadapi. Oleh karena itu, antara guru dan siswa harus bersinergi dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran (Agus Supriyono, 2012). Selain pembentukan kultur sekolah yang dilakukan di dalam kelas, semua warga sekolah juga harus membentuk iklim sekolah yang kondusif di luar kelas. Kultur sekolah di luar kelas ini seperti adanya pembentukan kebiasaankebiasaan positif yang harus diterapkan oleh semua warga sekolah, seperti membiasakan senyum ketika bertemu guru dan teman sebaya, membiasakan untuk menjaga kebersihan lingkungan sekolah, tidak berkata-kata kasar, dan tidak berbuat keributan. Kesemuanya itu diharapkan akan dapat membentuk mental positif siswa dalam kehidupan sehari-hari, baik ketika berada di lingkungan sekolah maupun ketika berada di tempat tinggal siswa.

Hasil penelitian Siswanto (2014), menjelaskan penerapan kultur sekolah yang positif di luar kelas ini sangat penting, terutama untuk membiasakan siswa dalam berinteraksi dengan orang lain. Siswa bisa memilih teman yang dapat memberi motivasi belajar dan menghindari teman yang dapat memberi dampak negatif bagi diri sendiri. Contoh bergaul dengan teman yangmalas belajar, suka  bermain game, teman dengan gaya hidup mewah yang melupakan pendidikan, dan masih banyak lagi. Hal-hal men jadi lupa akan kepentingan belajar (Siswanto, 2014). Berdasarkan uraian di atas, budaya sekolah harus dibangun oleh semua warga sekolah. Kepala sekolah dan guru harus dapat menjadikan sosok teladan yang dapat dijadikan sebagai panutan. Budaya sekolah dimulai dari pembiasaan perilaku harian seperti peribadatan, kehadiran tepat waktu, membuang sampah pada tempatnya, berpakian rapi dan lain-lain.

Dalam meningkatkan kualitas kehidupan maka salah satunya ditentukan oleh faktor pendidikan seseorang. Pendidikan bagi seseorang memiliki arti strategis untuk mencapai kesuksesan dalam kehidupan. Pendidikan dapat diperoleh melalui pendidikan formal atau nonformal. Permasalahan utama dalam pendidikan adalah bagaimana menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas. Faktor yang diduga dapat mempengaruhi penyelenggaraan pendidikan adalah ketersediaan sarana dan prasarana pembelajaran, aktivitas dan kreativitas guru dan siswa dalam proses belajar mengajar

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar